Berita Hawzah – Konferensi internasional "Rahmatan lil 'Alamin" diselenggarakan di kota Kolkata, India, dengan dihadiri oleh para ulama, cendekiawan Muslim, profesor universitas, penyair, penulis, serta tokoh-tokoh terkemuka dari berbagai agama dan berbagai lapisan masyarakat. Para peserta menekankan pentingnya menyebarkan pesan perdamaian, persaudaraan, dan hidup berdampingan secara damai di bawah naungan ajaran Nabi Muhammad Saww.
Pesan Universal Sirah Nabi dan Urgensi Memperkuat Dialog Antaragama
Dalam acara ini, Hujjatul-Islam Sayyid Muhammad Shadiq Husaini, seorang ulama India, dalam pidatonya menyatakan: Nabi Muhammad Saww tidak diutus hanya untuk satu kaum, wilayah, atau kelompok tertentu, melainkan keberadaan mulia, sirah, dan perilaku beliau merupakan teladan yang jelas bagi seluruh umat manusia dalam hal perdamaian, keadilan, kasih sayang, empati, dan penjagaan martabat kemanusiaan.
Ia menambahkan: Ajaran Nabi Muhammad Saww, alih-alih menciptakan pembatasan dan diskriminasi di antara manusia, justru menekankan persaudaraan, cinta kasih, koeksistensi, dan saling menghormati, serta di tengah kekerasan, ketegangan, dan konflik, beliau meletakkan jalur perdamaian dan dialog di hadapan umat manusia.
Ulama India ini, dengan merujuk pada meluasnya fenomena seperti penyebaran kebencian agama, perselisihan sektarian, kekerasan, dan ketidaktoleranan terhadap pandangan yang berbeda di dunia saat ini, menekankan urgensi untuk lebih menyebarluaskan dan memperkenalkan sirah serta ajaran Nabi Muhammad Saww. Beliau mengatakan: Pengutusan Nabi besar Islam Saww membawa pesan rahmat bagi seluruh umat manusia, dan beliau dengan menolak segala bentuk supremasi berdasarkan warna kulit, ras, bahasa, dan afiliasi sosial, menyeru manusia kepada keadilan, akhlak, persaudaraan, dan penghormatan terhadap martabat satu sama lain.
Ia melanjutkan: Saat ini dunia lebih dari sebelumnya membutuhkan ajaran moral dan kemanusiaan Nabi Muhammad Saww, dan untuk mengurangi kebencian, kekerasan, dan konflik, prinsip-prinsip serta nilai-nilai sirah nabawiyah harus diperhatikan secara praktis dalam kehidupan individu dan sosial.
Tokoh agama ini juga menekankan pentingnya memperluas budaya dialog dan saling menghormati di antara pemeluk agama dan mazhab, dan mengatakan: Dalam kondisi saat ini, memperkuat hubungan dan dialog antaragama serta berbagai lapisan masyarakat merupakan salah satu kebutuhan penting.
Pembicara dalam pertemuan tersebut menilai penyelenggaraan "Konferensi Rahmatan lil 'Alamin" di kota Kolkata yang multikultural dan beragam sebagai contoh berharga tentang kemungkinan kerja sama dan konvergensi di antara pemeluk agama dan berbagai kelompok, dan menyatakan: Penyelenggaraan pertemuan-pertemuan semacam ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan keyakinan dan budaya, kita dapat berdiri bersama di atas isu-isu kemanusiaan yang sama.
Hujjatul-Islam Sayyid Muhammad Shadiq Husaini di akhir menegaskan: Hari ini, lebih dari segalanya, kita harus memperkuat cinta kasih menggantikan kebencian, dialog menggantikan konfrontasi, dan persatuan serta solidaritas menggantikan perpecahan dan keterpisahan dalam masyarakat.
Cermin Indah Konvergensi Antaragama dan Mazhab
Salah satu bagian yang menonjol dan menarik perhatian dalam konferensi ini adalah kehadiran tokoh-tokoh ilmiah, keagamaan, dan sosial dari berbagai agama dan kelompok. Di samping para ulama dan cendekiawan Muslim, hadir pula perwakilan dari komunitas Hindu, Kristen, dan Sikh dalam acara ini. Kehadiran ini memperlihatkan cermin indah dari koeksistensi damai dan dialog antaragama.
Para pembicara lainnya, dengan merujuk pada keragaman budaya dan agama di kota Kolkata, menekankan pentingnya penyelenggaraan pertemuan-pertemuan semacam ini dan menyatakan: Agama seharusnya tidak menjadi faktor yang menciptakan tembok dan jarak antarmanusia, melainkan dapat menjadi landasan untuk memperkuat akhlak, kemanusiaan, pencarian kebenaran, dan solidaritas sosial.
Para pembicara juga menegaskan bahwa saling menghormati, dialog, dan saling mengenal merupakan cara-cara terpenting untuk mewujudkan masyarakat yang tenteram dan berbasis pada koeksistensi damai, dan para pemeluk berbagai agama dapat, dengan berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan bersama, melangkah di jalur perdamaian dan saling pengertian.
Cerminan Cinta kepada Nabi Muhammad Saww dalam Puisi dan Sastra
Bagian puisi dan sastra merupakan salah satu sesi menarik lainnya dalam acara ini yang mendapat sambutan istimewa dari para hadirin. Para penyair dalam syair-syair mereka melukiskan cerminan cinta dan pengabdian kepada Nabi Muhammad Saww, akhlak mulia dan sirah kemanusiaan beliau, serta rahmat dan kasih sayang beliau yang meluas kepada seluruh umat manusia.
Pembacaan puisi-puisi dan syair-syair religius ini menjadikan suasana ruangan penuh dengan spiritualitas dan nuansa rohani, dan para hadirin pun dengan penuh perhatian dan hormat mendengarkan puisi-puisi serta pujian-pujian yang disampaikan, dan menyambut baik sesi sastra dan spiritual ini.
Cinta kepada Nabi Saww Menemukan Makna dalam Perbuatan
Dokter Muhammad Ridhwan Islam Khan, Sekretaris Akademi Nurul Islam, dalam pidatonya menyatakan: Memperingati Maulid Nabi Muhammad Saww yang penuh berkah akan dapat memiliki makna dan efek nyata apabila ajaran-ajaran dan petunjuk-petunjuk beliau terwujud dalam perilaku individu dan sosial umat Islam.
Ia menambahkan: Cinta sejati kepada Nabi Muhammad Saww tidak hanya terbatas pada pengungkapan slogan-slogan emosional dan penyelenggaraan acara-acara seremonial, melainkan harus terwujud dalam ranah perbuatan dan kehidupan sosial; di antaranya dengan menegakkan keadilan dan bersikap adil, melindungi kaum lemah dan orang-orang yang membutuhkan, menghormati hak-hak tetangga, berbuat baik kepada hamba-hamba Allah, dan berupaya mewujudkan perdamaian serta ketenangan dalam masyarakat.
Dokter Muhammad Ridhwan Islam Khan menegaskan: Pesan utama dari "Konferensi Rahmatan lil 'Alamin" dari tanah Kolkata adalah bahwa dengan terinspirasi dari rahmat Nabi Muhammad Saww dan dengan menginternalisasikan nilai-nilai kemanusiaan dalam diri kita, kita perkuat persatuan menggantikan perpecahan; kita sebarkan cinta kasih menggantikan kebencian; dan kita terus kibarkan panji perdamaian serta koeksistensi damai menggantikan konflik dan peperangan.
Komentar Anda